dimana letaknya keindahan pakaian?

Filed under: Uncategorized — frenchflower at 9:21 pm on Saturday, May 19, 2007

Mungkin Anda memiliki seorang sahabat atau saudara yang selalu terlihat pantas mengenakan pakaian dengan warna dan motif apapun. Seorang sahabat saya, salah satu yang demikian. Hampir setiap kali saya bertemu dengannya, komentar singkat selalu saya berikan untuk pakaian yang dikenakannya, “Bajunya bagus. Tambah keren aja pakai baju itu…”
Orang yang sangat sederhana, setiap kali mendapat komentar itu, ia selalu menjawabnya dengan kalimat standar, “Alhamdulillah, murah kok ini … bukan baju mahal”
Nampaknya, ia tahu persis jawaban yang kemudian keluar dari mulut saya selanjutnya. Bahwa saya akan selalu mengatakan, “keindahan pakaian, bukan terletak pada motif dan desainnya. Bukan pula karena harganya, melainkan pada seberapa besar rasa syukur kita saat memiliki dan mengenakannya”
Kemudian ia pun akan terkekeh, bukan menertawakan kalimat saya, melainkan malu mendapatkan kalimat itu ditujukan kepadanya. Tetapi jujur saja, saya memang sangat mengenal sahabat yang satu ini dengan rasa syukurnya yang luar biasa. Setidaknya, ia sangat konsisten untuk senantiasa bersyukur atas setiap nikmat yang didapatnya. Caranya pun beragam, dari ‘sekadar’ ucapan “Alhamdulillaah” hingga bersedekah.
Allah, katanya, akan menambah nikmat untuk setiap nikmat yang kita syukuri. Jangan pernah berharap Allah akan menambah nikmat jika kita belum bisa mensyukuri yang ada. Bukan nikmat, justru adzab yang bakal didapat jika kita mengingkari nikmat dari-Nya.
Kembali ke soal pakaian. Saya pun mengenal seseorang yang cukup dekat. Puji syukur ia diberi kenikmatan oleh Allah mendapatkan kekayaan harta. Namun saya tahu, ia sering meninggalkan shalatnya dengan berbagai alasan. Pakaian-pakaiannya selalu ber-merk terkenal dengan harga di atas 500 ribu rupiah. Tak hanya pakaian, sepatu atau alas kakinya pun tak pernah berharga di bawah 400 ribu sepasang.
Yang cukup mengejutkan, saat saya tahu ia kerap menghabiskan uang dalam jumlah yang banyak hanya untuk membeli pakaian. “Satu baju paling hanya dipakai 2-3 kali saja, selebihnya dibiarkan menggantung rapih di lemari, ” katanya.Setiap kali mengenakan pakaiannya, ia sering menggerutu, mengeluhkan kekurangan-kekurangan pakaian yang baru dibelinya itu. Karenanya, setiap pekan selalu ada dua atau tiga kemeja baru yang dibelinya. Begitu pun dengan barang-barang lainnya, dari sepatu hingga kendaraan yang sering gonta-ganti. Sebulan sekali ia ganti sepatu, sedangkan mobil bisa bertukar satu tahun sekali. jadi, di mana letak keindahan pakaian? Bukan karena harganya yang mahal, bukan pula pada warna, desain atau motif indahnya. Kita senantiasa akan terlihat rapih, pantas dan berseri mengenakan pakaian apapun jika mengiringinya dengan rasa syukur. Tidak peduli berapa harga pakaian tersebut, sebab rasa syukur itu memberikan aura kebahagiaan yang memancarkan pesona bagi siapa saja yang ditemuinya.
Seperti sahabat saya itu, baju seharga 25 ribu rupiah pun tetap membuatnya menyenangkan untuk dilihat dan diajak bergaul. Semoga…

calon istri seorang lelaki

Filed under: Uncategorized — frenchflower at 3:38 pm on Monday, April 30, 2007

Seorang teman pernah mengatakan, kriteria calon isterinya: shalihah, cerdas, kaya dan cantik. Sebuah hadist juga mengemukakan, seorang perempuan dipinang karena kecantikannya, hartanya dan keturunannya. Tapi pinanglah perempuan karena keshalihannya. Itu yang utama. Saya sepakat dengan hadist tersebut. Perempuan yang shalihah, insya Allah cerdas. Ketika seorang perempuan cerdas, harta bisa dicari. Bila harta sudah di tangan, kecantikan bisa dibeli. Pilih satu, dapat tiga.

Namun, bila kita tinjau ulang, pemikiran akan kriteria calon isteri tersebut cenderung egois. Tidak memandang dari banyak sisi. Hanya memandang pernikahan dari segi manfaat untuk diri sendiri. Tidak untuk keluarga, sahabat dan lingkungan sekitar. Padahal menikah adalah penyatuan dua organisasi besar; keluarga, membentuk organisasi baru. Banyak pihak yang bisa terpengaruh dan mempengaruhi pra dan pasca pernikahan.

Jika kita berkaca, mengevaluasi. Melihat, mencari kelebihan dan kekurangan diri. Niscaya kita akan menemukan berbagai fakta; kita juga punya banyak kekurangan. Lalu, pantaskan bersibuk ria dengan segala macam kriteria? Sedang diri sendiri mungkin tak bisa memenuhi segala kriteria impian oleh calon pasangan. Seseorang berharap mendapat perempuan shalihah, namun apakah dia cukup shalih untuk berdampingan dengan perempuan shalihah. Ia ingin perempuan cerdas, tapi apakah ia cukup cerdas untuk mengimbangi kecerdasannya? Ia ingin perempuan berharta, tapi seberapa banyak harta yang dapat dia berikan, untuk ‘membeli’ sang calon dari ayah-bundanya. Dan ketika ia ingin perempuan cantik, apakah ia sendiri cukup gagah, tidak jomplang, saat bersisian dengannya? Tidakkah keinginan si lelaki terlalu berlebih?

Dari kisah cinta para Nabi, sahabat dan para syuhada, ada sejumlah fakta: tangan Allah selalu bermain. Kisah cinta Muhammad-Khadijah, Yusuf-Zulaikha hanyalah sebagian kecil contoh. Keikhlasan menggenapkan separuh agama pasti akan mendapat anugerah luar biasa; seorang isteri penghuni taman surga. Segala hambatan pernikahan hanyut karena ibadah yang khusu, penghambaan yang sangat padaNya. Manusia hanya berusaha, hasilnya terserah pada Yang Kuasa.

Hendaknya seorang lelaki berusaha melihat dari banyak sisi, ketika datang seorang calon isteri padanya. Segala identitas standar bukan pertimbangan utama. Serahkan saja padaNya. Meminta petunjuk lewat shalat istikharah. Apakah perempuan itu orang yang tepat? Apakah si calon pasangan dunia akhirat? Hanya Allah yang tahu, kan?

Lelaki manapun bisa saja berharap: Semoga calon isteri yang datang padaku adalah perempuan shalihah. Bila belum shalihah, haruslah dia mengajak, meningkatkan pemahaman agama, terus memperbaiki diri. Menghiasi rumah tangga dengan amalan wajib dan sunnah. Menggapai sakinah. Semoga perempuan yang datang padaku cerdas. Jika belum cerdas, mestilah dia yang mengajar dan belajar dari pasangannya. Mencari ilmu baru, terutama ilmu rumah tangga. Tentang harta, boleh saja meminta: datangkanlah padaku calon isteri yang berharta. Tetapi ingatlah, harta adalah cobaan, tak banyak orang yang bisa tetap rendah hati, menunduk-nunduk ketika punya harta. Lagipula harta gampang dicari. Soal kecantikan, wajar lelaki normal ingin mendapatkan isteri cantik. Tetapi bukan hanya cantik lahir, batinnya juga harus cantik. Yang menjadi pertanyaan, standar apakah yang akan digunakan untuk menilai seorang perempuan cantik. Standar dunia atau standar surga? Standar dunia menekankan kecantikan maya. Mengandalkan costmetik. Kecantikan abadi, keindahan hingga akhir hayat dan di akhirat kelak, itulah yang seharusnya dicari. Terserah cantik atau tidak kata dunia, yang penting isteri bisa selalu menarik di mata, di hati. Menjadi telaga sejuk, pohon teduh di terik siang. Standar cantik ini sifatnya personal. Orang lain memandang biasa, tapi luar biasa menurut sang suami.

Perempuan manapun yang datang pada seorang lelaki, sudah sepatutnya ia melepas kacamata kekinian. Menggunakan kacamata masa depan dan kacamata banyak orang untuk menilai. Mungkin banyak keindahan calon pasangan yang sengaja disimpan olehNya. Allah ingin mengujinya, apakah dia cukup shaleh, cukup ikhlas, cukup bersabar untuk mendapatkan pasangan sejati.

Pasti ada keraguan saat menimbang. Maka dari itulah perlunya mengetuk nurani sahabat, saudara, kakak, orang tua, mereka yang lebih berpengalaman. Calon suami dapat bertanya, apakah perempuan begini akan begini-begini? Ia bisa minta tepukan tangan di pundak, pelukan, dan untaian mutiara. Agar sang lelaki yakin, mantap. Semoga setelah itu, dia betul-betul siap, menggenapkan separuh agama, mengapai sakinah.

amazin’..

Filed under: Uncategorized — frenchflower at 2:52 am on Saturday, April 21, 2007

Nonton "naga Bonar jadi 2"…!akhirnyaaa…!penasaran banget, kayak gimana sih film yang katanya dalam 2 minggu bisa jadi magnet buat hampir 200.000 penonton?well, truly, deeply..bikin saya terkagum2..bioskop full booked..! keren ga tuh…film Indonesia jadi "raja" di kandang sendiri..^_^. Temanya sebenernya sih sederhana aja..cuman "generation gap" aja, tapi penyampaiannya yang gak biasa..menyentuh banget..siap2 tissue ya..apalagi buat orang yang mellow kayak saya, hehehe..! jadi inget ortu saya..kadang waktu saya masih abg, krasa banget generation gap itu deh..kadang sampe sekarang sih..tapi  tambah umur saya berusaha wise aja deh nyikapinnya..cieeh..ya iya lah, masak sih pola pikirnya teeeteeep aja kaya 5 sampe 10 taun yang lalu…ya enggak lah…malu sama umur..hehehe..yang bikin saya tersentuh banget pesan moralnya dalem banget deh.. jadi mikir ya,sebenernya orangtua tu ga pengen macem2..kadang mereka juga ngerasa wrong person in wrong time and place..sedih deh..well, yang namanya belajar memang bisa darimana aja, dan Nagabonar jadi 2  udah ngebuktiin itu..

MANAJEMEN KEHIDUPAN…CIEEH..

Filed under: Uncategorized — frenchflower at 8:52 pm on Monday, March 5, 2007

Sore itu, beberapa hari yang lalu, di mobil Ria, temen saya sekelas pas jalan-jalan sore nemenin si jeng satu itu, maklum, pengangguran,hehe. Yah, skali-skali refreshing kan gapapa doong..^_^. Ngomongin banyak hal, dari yang serius sampe gak penting banget deh buat diomongin, girl talk banget deh pokoknya. Ketawa-tawa bareng sampe terkikik-kikik saking konyolnya. Sampe pada suatu pertanyaan Ria buat saya, “Vien, kalo bisa ngebalik waktu, kamu pengen balik ke bagian hidup yang mana?” saya pun terdiam. Yang mana ya pikir saya? Kayaknya hidup saya normal-normal aja. Mmm…tapi akhirnya saya jawab juga. “kayaknya pengen balik ke masa-masa kuliah S1 dulu deh”. Beneran sih, saya ngerasa banyak banget yang kurang dimasa-masa itu. Kayaknya semuanya masih kurang running well. Kadang-kadang kok looser, huhuhu..
Tapi balik lagi saya berpikir,apakah ini mutlak kesalahan saya, kalau dimasa-masa itu saya banyak melakukan kesalahan-kesalahan yang kayaknya “sangat bodoh”, dan berimplikasi kepada masa sekarang dengan misalnya banyak teman seangkatan saya lebih sukses dalam karir, memiliki kemapanan yang jauh diatas saya, de el el. Well, saya merenung, apakah rumus menjalani hidup itu harus menjalani keadaan yang sama persis dengan apa yang kita inginkan?Apakah rumus menjalani hidup harus sama dengan ilmu pasti atau matematika yang satu ditambah satu sama dengan dua? Saya jadi sadar, kalau saya jadi agak kurang bersyukur dengan berpikir bahwa banyak masa dimana saya sering gagal dalam segala hal..Padahal sebenarnya semua itu biasa-biasa aja. Kok kayaknya jadi orang paling menderita deh dimasa-masa itu! (mule deh hiperbolisnya kumat, hehehe..!). jadi ngungkit masa lalu yang pedih…, alaaah dangdut banget…hihihi..
Saya jadi mikir, kalau cara pandang saya selalu begitu, dari sudut pandang dunia aja, berarti itulah sebenarnya kegagalan terbesar saya . Tidak ada orang yang sempurna, apalagi saya. Saya gak mau dong jadi orang sombong yang list musuhnya lebih panjang dari daftar belanjaan ibu saya, yang nganggep diri saya lebih perfect dari orang lain, dan buntut-buntutnya jadi ngeremehin orang lain deh. Huaaah…gak banget..hehe..! Kalau saat ini rasanya saya masih belum tau apa yang saya hadapi kedepan, teman-teman seangkatan saya mungkin udah lebih settle dari saya, sementara saya baru mau melangkah, dan mau kemana saya setelah lulus ini, apakah saya bisa win and compete globally, (haduuuh kayaknya berat amaat…hehehe) saya pikir sih, gak usah terlalu khawatir. Saya ini kan manusia yang segala langkah dan gerak saya tidak lepas dari kekuasaan Nya. Kalau saya merasa hidup saya di masa-masa yang dulu gak running well ya, saya commit aja ma diri sendiri gak akan mengulangi kesalahan yang sama. Kata mbah saya di kampung, “yang penting istiqomah ya kalau mau berubah jadi lebih baik ..” waduh mbah,amiin.. pangestunipun..!doa orang tua kan manjur bo, hehe! sebenernya simpel ya?mau bagaimana lagi?nasi sudah jadi bubur. Tapi, bisa diusahain kan, gimana caranya biar bisa jadi bubur ayam yang enak?yummiee!mak nyusss…hehehe..yup!tapi besok-besok jangan sampe jadi bubur lagi kan?
Yang Diatas pasti punya maksud tersendiri buat saya. Positive thinking aja. Suatu keyakinan yang terus saya bangun adalah, tidak selamanya sebuah kegagalan itu seratus persen adalah faktor intern diri kita. Di luar itu Yang Diatas adalah penentu segala gerak dan langkah kita., saya yakin, Dia tidak akan pernah mengabaikan kita. Walaupun jujur, kadang kita sering “lupa” ma Dia. Then, mudah-mudahan, the best problem solving will b’ coming soon! Guys, kayaknya saya memutuskan buat santai aja deh. Jalanin aja apa adanya. Kayak pemeo Latin, Carpediem ”nikmatilah hari ini.!” well, wish u all the best yah! moga kedepannya semua bisa running well.. have a nice day ..!

jodoh…huhuhu…ditunggu ato dicari?

Filed under: Uncategorized — frenchflower at 1:17 am on Tuesday, February 27, 2007

Baru-baru ini nerima dua undangan nikah dari dua teman. What a surprise..! Hmmm..seneng deh rasanya! Turut berbahagia ngebaca kedua undangan itu. Semoga diberkahi dan menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah warahmah..amin.
Jodoh, soulmate, belahan jiwa, apapun nama dan sebutannya, bener-bener rahasia yang tak terduga. Ada yang bertahun-tahun ngejalanin suatu hubungan tapi tak berujung pada akhir yang membahagiakan,..atau justru malah bertemu dengan seseorang yang baru dikenal dan dialah si jodoh, soulmate, belahan jiwa atau apapun nama dan sebutannya, yang selama ini ditunggu-tunggu.
Ada juga orang-orang yang sampe di usia mapan belum juga ndapetin seorang pendamping. Macam-macam sih alasannya. Dari belum ketemu pasangan yang sama ‘chemistry” nya, sampai masalah finansial yang dirasa belum mapan, untuk memenuhi kebutuhan keluarga di kehidupan yang semakin “keras” ini. Haduh, bahasanya agak hiperbolis ga sih..hehe..
Alasannya sebenarnya menurut saya ya, cuma satu. Yang diatas belum mentakdirkan bertemu belahan jiwa. Dalam hal ini ya emang sulit dipaksakan. Masalah selera, kecenderungan jiwa akan keindahan fisik dan kereligiusan adalah hak prerogatif setiap orang. Dicari kemana-manapun dan diusahakan seperti apapun jika bukan jodoh pasti tidak akan terwujud. Jodoh itu katanya seperti halnya rezeki. Ngapain juga orang bersusah-payah memburu rezeki , kalau rezeki itu sudah ditentukan pembagiannya oleh yang Diatas. Harta yang sudah ditangan seseorang pun kalau bukan rezekinya akan lepas. Saya pernah ngebaca dalam salah satu buku A. Mustofa Bisri, menyitir dari seorang sufi Iskandariah, sebuah ungkapan yang sangat menarik, “Kesungguhanmu dalam memperjuangkan sesuatu yang sudah dijamin untukmu dan kesambelawaanmu dalam hal yang dituntut darimu membuktikan padamnya mata hati dalam dirimu”. Daleeem bo! Duh, jadi ngerasa tersindir nih..
Ya.. itu lah, sulit jika ngomongin topik yang satu ini. Jodoh..ditunggu ato dicari? Kalo menurut saya sih, bukanya sok tua dan sok wise sih, tapi ya fifty-fifty lah. Kata pepatah jadul, ora et labora aja deh. Usaha juga perlu, kayak perluasin networking. Ikut klub ato gathering kayaknya oke juga. Selain nambah temen, sapa tau si soulmate nyelip disitu. Reuni temen-temen lama? Wah asyik banget tuh! Sapa tau temen yang dulu cupu dah jadi prince ato princess charming, kan ga tau juga, hehe! Upgrade yang kurang dari diri juga ga ada salahnya, supaya tambah oke, wawasan tambah luas dan ga malu-maluin kalo diajak ngomongin hal-hal yang lagi in. Dari hal kecil-kecil aja deh. Minimal ga anti lagi ma NEWS kan ga sulit-sulit amat. Tapi Ga perlu bgaul abis-abisan juga sih. Hang out, ngopi-ngopi tiap hari, party goers? Hello?A BIG NO..NO deh ! Kesannya ntar malah kayak kejar setoran banget, dan dompet juga jadi “bolong”, hehe! Yang wajar-wajar aja deh. Semua yang berlebihan kan ga oke juga jadinya. Selalu berdoa supaya dapet yang terbaik dan tetep selektif ga asal hajaaar ya tetep.
Well, tapi ada satu hal yang ngebuat saya merenung, tapi mungkin bisa jadi satu konklusi yang manis nih…guys, bukankah semua yang ada di dunia ini diciptakan dan berjalan dengan membawa hikmahnya masing-masing? Selalu ada hikmah untuk semua yang terjadi betapapun pahit getirnya , dan saya pun seringkali ngalamin bahwa hidup tidak selamanya manis, bahkan sampe nangis darah, hehe…, hiperbolis banget. Tapi ayah saya selalu bilang “anggap saja itu intermezzo kehidupan” hmm..wise banget. Bukankah “Mata” yang Diatas ga akan pernah salah? Dia pasti tau kapan saat yang paling tepat buat setiap umat Nya. Termasuk waktu yang tepat untuk si jodoh, soulmate, belahan jiwa atau apapun namanya itu datang tentunya. Yakin, semua pasti akan menjadi “indah” pada waktu-Nya..

« Previous Page