Kata orang, hidup ini layaknya roda kehidupan. Kadang berada di atas, kadang berada di bawah. Ada pula yang bilang hidup ini seperti ombak di pantai. Kadang tenang, namun tak jarang pula menghantarkan gelombang yang begitu kencang. Apa pun perumpamaan manusia terhadap kehidupan ini, intinya adalah hidup ini ga akan setenang air di dalam kolam. Akan ada goncangan-goncangan, hambatan-hambatan, dan ujian-ujian yang bermacam-macam bentuknya. It’s definitely right, saya juga sering merasakannya, bahkan beberapa bulan belakangan ini saya merasakan “hantaman” itu..(huaduh bahasanya..^_^), tapi Alhamdulilah wa syukurillah ya Rabb, berbuah manis Terkadang manusia seringkali merasa tidak mampu untuk menghadapi cobaan-cobaan hidup. Jujur, as a ordinary people, especially a human being, absolutely, saya juga mengalaminya. Bahkan banyak pula yang tak menyadari bahwa semua nikmat dan semua ujian itu hanya berasal dari satu sumber. Semua itu berasal dari pemilik seluruh jiwa-jiwa manusia dan penguasa seluruh hati-hati manusia, yaitu Alloh, Sang Maha Kuasa. Parahnya, ada juga yang menyesali diri sendiri, menganggap nasib diri terlalu sial, sehingga tak pernah mendapatkan kebahagiaan dalam hidup. Pernah denger cerita sebuah cangkir cantik yang dipajang di sebuah etalase toko? Begini ceritanya. Sebelum berada di sana, ia hanyalah seonggok tanah liat yang sama sekali tidak dihiraukan orang. Kemudian seorang pengrajin mengambil dirinya, membentuk tanah liat itu, kemudian membakarnya di dalam perapian. Sang tanah liat sempat marah dan benci terhadap perlakuan yang diterimanya. Ia harus menahan sakit dan kepanasan. Tak sampai di situ, ia harus rela dicat dengan berbagai warna, kemudian dibakar lagi. Segala macam perlakuan sungguh tidak mengenakkan baginya. Namun apa yang terjadi, setelah semua proses selesai, sang tanah liat mendapati dirinya telah menjadi sebuah cangkir cantik. Ia bukan lagi seonggok tanah liat yang bau, tapi ia telah menjadi sosok baru dan tentu saja lebih baik. Mungkin kita sebagai manusia, seringkali berpikir seperti tanah liat tadi. It’s nature, manusiawi. Ujian-ujian yang mendatangi di setiap detik kehidupan selalu ditanggapi dengan ketidaksabaran, keluh kesah, dan ketidakikhlasan. Tak jarang mungkin di antara kita merasa terlalu dibebani dengan amanah-amanah, merasa hanya diri sendiri yang diberi ujian, sedang orang lain bisa bersenang-senang, dan ada juga yang justru berhenti dan tidak mau lagi berbuat karena merasa terlalu lelah, fatigue, dan kecewa. Belum lagi kondisi lingkungan, keluarga, dan teman-teman yang seringkali cuek, tidak perduli, dan sibuk dengan urusan masing-masing. Tapi coba deh kita lihat kisah si gelas cantik tadi. Lihatlah, setelah semua proses berlalu, seonggok tanah liat telah menjadi sebuah gelas cantik. Betapa indahnya perubahan itu. Saat ini saya, anda mungkin sedang diuji berbagai macam masalah, mulai dari masalah di keluarga, orang tua, teman-teman, tempat kerja, tapi percaya bahwa Alloh sedang membentuk kita. Bisa jadi kita tidak menyukai bentukan itu, tapi sebenernya hanya “sedkit” lebih bersabar. Bukankah selalu ada kemudahan setelah kesusahan? Ingat, awan tak selamanya mendung, sekali waktu ia akan cerah berawan menaungi langit. Bahkan angin topan pun tak selamanya meniupkan angin kencangnya, pada waktunya ia akan tenang dan reda kembali. huaduuh..sok puitis ni..hehe. Enggak kok, bukan sok puitis, begitu metaforanya. Dulu, ada teman pernah bilang, kalau merasa diri sedang mendapatkan ujian yang begitu berat, berbaik sangkalah kepada diri sendiri dan kepada Alloh. Ingat bahwa Alloh selalu menurut persangkaan hamba-Nya. Anggap saja saat diuji dengan berbagai masalah, kita sedang dalam masa ujian layaknya anak sekolah. Untuk bisa naik tingkat, harus ada ujian untuk menguji kesiapan. Makin tinggi tingkat, makin tinggi pula level kerumitan ujian yang diberikan. Percaya deh, kalau berhasil menghadapi ujian ini, akan berhasil naik tingkat di mata Alloh, menjadi mukmin sejati. Alloh tidak akan memberikan suatu ujian sesuai dengan kemampuan hamba-Nya. Kalau Alloh saja yakin kita mampu, masa kita sendiri tidak yakin dengan kemampuan diri? Buat yang saat ini sedang diuji oleh Alloh (termasuk saya, hehe), apapun bentuk ujian itu, bergembiralah dan bersabarlah. Bergembira karena ujian berarti Alloh masih peduli dan sayang sama kita, untuk itu ia memberikan ujian agar kita lebih kuat, lebih bijak, dan lebih mulia. Alloh ingin kita menjadi lebih baik di hadapan-Nya. Setelah itu, bersabarlah karena sesungguhnya kesabaran akan membuahkan ketenangan jiwa, kekuatan hati, dan sungguh Alloh selalu bersama orang-orang yang sabar. Bersabarlah, karena Allah tidak akan meninggalkan hamba-Nya yang beriman, justru manusia lah yang seringkali meninggalkan sang penciptanya. Apakah yang diperoleh orang-orang yang telah kehilangan Alloh dari dalam dirinya? Dan apakah yang harus dicari oleh orang-orang yang telah menemukan Alloh di dalam dirinya? Sungguh antara yang pertama dan kedua tidak akan pernah sama. Orang kedua akan mendapatkan segalanya, dan orang pertama akan kehilangan segalanya. Wallahualam