menggapai ridho lewat menikah
“Kapan menikah?” mungkin itu common question yang diajukan lingkungan sekitar kepada kita yang sudah dirasa ‘cukup’ dalam segala hal untuk yang satu itu. InsyaAlloh dimudahkan dan disegerakan Alloh..itu pasti jawaban saya jika ada yang menanyakan hal tersebut kepada saya, dan memang benar-benar dimudahkan sepertinya..saya merasakannya. Walaupun pada akhirnya itu terserah pada Alloh melalui keputusan saya juga. Yah, destiny meet choice..hehe. Di sebuah buku yang baru saya baca ada suatu hadist yang berbunyi,”Menikahlah, karena engkau akan menjadi kaya”, sabda Rasullullah ini mengingatkan saya betapa “besarnya” manfaat menikah. Kata kaya disini memiliki banyak makna, tidak hanya semata2 mengacu kepada harta. Lebih dari itu, dijelaskan juga bahwa menikah artinya menetramkan batin, menambah keluasan jiwa dan membuat seseorang menjadi lebih arif dalam menjalani hidup. makna terdalam dalam proses menikah adalah menyempurnakan sebagian dari agama, mengikuti sunah Rasul. Terdapat banyak hikmah yang terkandung dalam pernikahan. Dengan pernikahan maka manusia telah mengamalkan perintah Allah dan menjauhi laranganNya. Setiap pasangan pstimengahrapkan pernikahannya jadi berkah dan selalui diridhai Allah, orangtua dan keluarganya. Doa yang selalu diucapkan untuk pasangan baru adalah sakinah, mawaddah dan rahmah. Tapi tahukah kita bahwa untuk mewujudkannnya tidak semudah mengucapkannya. Saya yakin, ada banyak pekerjaan disana, pengorbanan, kekuatan dan keteguhan hati agar perjalanan rumah tangga berjalan sesuai harapan.
“Dunia adalah harta kekayaan yang sangat mahal harganya dan sebaik-baik harta kekayaan didunia adalah wanita yang sholihah” (HR. Muslim). Perempuan sholihah diibaratkan tiang. Dan tiang rumah tangga akan tegak oleh ketakwaan. Sebab ketakwaan kan akan melunakkan hati, menjernihkan jiwa serta pintu untuk menjalankan hak dan kewajiban berumah tangga.
Tapi bukan laki-laki saja yang dapat memilih calon istri. Perempuan juga berhak memilih pasangan hidupnya. Bahkan perempuan harus ekstra “hati-hati” memilih calon suami. Karena dengan menikah, perempuan akan menyerahkan jiwa raganya, kehidupannnya, susah dan senangnya kepada seorang laki-laki yang bukan bagian dari keluarganya. Laki-laki asing yang tidak memiliki ikatan darah. Seorang laki-laki yang tidak pernah serumah dengannya. Seperti yang diibaratkan Rasulullah “pernikahan adalah suatu penghambaan, hendaklah setiap orang diantara kamu memperhatikan dimana ia meletakkkan putrinya” (HR baihaqi).
Bagaimanapun posisi laki-lakiyang memegang talak. Jika tidak cocok, maka ia akan lebih mudah menceraikan istrinya. Berbeda dengan perempuan, meski dapat menggugat cerai, tapi prosesnya relative sulit. Maka memilih calon suami secara seksama adalah keharusan bagi perempuan agar di kemudian hari tidak terjadi penyesalan yang akhirnya berbuah perceraian.Rasulullah sangat menganjurkan kepada umatnya untuk menikahi orang yang benar-benar kuat agamanya dan mulia akhlaknya. Dalam sebuah riwayat disebutkan, seorang laki-laki datang kepada Hasan Bin Ali, cucu Rasulullah.”Ya Hasan,putriku akan dipinang, kepada siapa aku akan menikahkannya?” Hasan menjawab, “nikahkanlah putrimu dengan orang yang bertakwa. Sebab bila ia mencintai putrimu,pasti ia akan menghormati dan memulikannya. Dan bila tidak mencintai putrimu, pasti tidak akan menzhaliminya”. Laki-laki baik adalah untuk perempuan baik dan perempuan baik adalah untuk laki-laki baik. Janji Allah inilah yang selalu menjadi pedoman keyakinan saat menapaki kehidupan berumah tangga.. Dengan begitu InsyaAlloh saya tidak akan pernah menyesal dan berpikir untuk mengakhiri ikatan suci yang terucap dihadapan Allah.
: Janganlah seorang mukmin membenci istrinya yang mukminah. Kalaupun ia membenci salah satu akhlaknya, tentu ia menyenangi akhlak lannya. (HR Muslim kitab Ar Radha). Bagaimanapun juga tidak ada manusia yang sempurna. Setiap individu memiliki kekurangan yang mungkin sulit untuk diubah. Saya pun demikian. Masih banyak kekurangan saya yang harus saya perbaiki dan saya harapkan “someone out there” mau menerimanya, dan InsyaAlloh mendidik dan mengingatkan saya, begitupun saya sebaliknya padanya, mau menerima ia apa adanya.
Namun yang selalu harus diingat dan saya pegang adalah, apa yang nampak tidak baik dimata kita belum tentu tidak baik dimata Allah. Satu doa saya selalu saya panjatkan Ya Allah, berilah saya pasangan yang mendidik dunia dan akhirat, pasangan yang kelak mau selalu berjalan di jalanMu selalu agar rumah tangga saya kelak adalah rumah tangga yang penuh syukur, keikhlasan,keterbukaan dan ketakwaan dan menuju sakinah, mawaddah dan Warahmah Mu Yaa Rabb.. InsyaAlloh.,