ujian untuk menjadi lebih mulia

Filed under: Uncategorized — frenchflower at 9:52 pm on Friday, February 1, 2008

Kata orang, hidup ini layaknya roda kehidupan. Kadang berada di atas, kadang berada di bawah. Ada pula yang bilang hidup ini seperti ombak di pantai. Kadang tenang, namun tak jarang pula menghantarkan gelombang yang begitu kencang. Apa pun perumpamaan manusia terhadap kehidupan ini, intinya adalah hidup ini ga akan setenang air di dalam kolam. Akan ada goncangan-goncangan, hambatan-hambatan, dan ujian-ujian yang bermacam-macam bentuknya. It’s definitely right, saya juga sering merasakannya, bahkan beberapa bulan belakangan ini saya merasakan “hantaman” itu..(huaduh bahasanya..^_^), tapi Alhamdulilah wa syukurillah ya Rabb, berbuah manis Terkadang manusia seringkali merasa tidak mampu untuk menghadapi cobaan-cobaan hidup. Jujur, as a ordinary people, especially a human being, absolutely, saya juga mengalaminya. Bahkan banyak pula yang tak menyadari bahwa semua nikmat dan semua ujian itu hanya berasal dari satu sumber. Semua itu berasal dari pemilik seluruh jiwa-jiwa manusia dan penguasa seluruh hati-hati manusia, yaitu Alloh, Sang Maha Kuasa. Parahnya, ada juga yang menyesali diri sendiri, menganggap nasib diri terlalu sial, sehingga tak pernah mendapatkan kebahagiaan dalam hidup. Pernah denger cerita sebuah cangkir cantik yang dipajang di sebuah etalase toko? Begini ceritanya. Sebelum berada di sana, ia hanyalah seonggok tanah liat yang sama sekali tidak dihiraukan orang. Kemudian seorang pengrajin mengambil dirinya, membentuk tanah liat itu, kemudian membakarnya di dalam perapian. Sang tanah liat sempat marah dan benci terhadap perlakuan yang diterimanya. Ia harus menahan sakit dan kepanasan. Tak sampai di situ, ia harus rela dicat dengan berbagai warna, kemudian dibakar lagi. Segala macam perlakuan sungguh tidak mengenakkan baginya. Namun apa yang terjadi, setelah semua proses selesai, sang tanah liat mendapati dirinya telah menjadi sebuah cangkir cantik. Ia bukan lagi seonggok tanah liat yang bau, tapi ia telah menjadi sosok baru dan tentu saja lebih baik. Mungkin kita sebagai manusia, seringkali berpikir seperti tanah liat tadi. It’s nature, manusiawi. Ujian-ujian yang mendatangi di setiap detik kehidupan selalu ditanggapi dengan ketidaksabaran, keluh kesah, dan ketidakikhlasan. Tak jarang mungkin di antara kita merasa terlalu dibebani dengan amanah-amanah, merasa hanya diri sendiri yang diberi ujian, sedang orang lain bisa bersenang-senang, dan ada juga yang justru berhenti dan tidak mau lagi berbuat karena merasa terlalu lelah, fatigue, dan kecewa. Belum lagi kondisi lingkungan, keluarga, dan teman-teman yang seringkali cuek, tidak perduli, dan sibuk dengan urusan masing-masing. Tapi coba deh kita lihat kisah si gelas cantik tadi. Lihatlah, setelah semua proses berlalu, seonggok tanah liat telah menjadi sebuah gelas cantik. Betapa indahnya perubahan itu. Saat ini saya, anda mungkin sedang diuji berbagai macam masalah, mulai dari masalah di keluarga, orang tua, teman-teman, tempat kerja, tapi percaya bahwa Alloh sedang membentuk kita. Bisa jadi kita tidak menyukai bentukan itu, tapi sebenernya hanya “sedkit” lebih bersabar. Bukankah selalu ada kemudahan setelah kesusahan? Ingat, awan tak selamanya mendung, sekali waktu ia akan cerah berawan menaungi langit. Bahkan angin topan pun tak selamanya meniupkan angin kencangnya, pada waktunya ia akan tenang dan reda kembali. huaduuh..sok puitis ni..hehe. Enggak kok, bukan sok puitis, begitu metaforanya. Dulu, ada teman pernah bilang, kalau merasa diri sedang mendapatkan ujian yang begitu berat, berbaik sangkalah kepada diri sendiri dan kepada Alloh. Ingat bahwa Alloh selalu menurut persangkaan hamba-Nya. Anggap saja saat diuji dengan berbagai masalah, kita sedang dalam masa ujian layaknya anak sekolah. Untuk bisa naik tingkat, harus ada ujian untuk menguji kesiapan. Makin tinggi tingkat, makin tinggi pula level kerumitan ujian yang diberikan. Percaya deh, kalau berhasil menghadapi ujian ini, akan berhasil naik tingkat di mata Alloh, menjadi mukmin sejati. Alloh tidak akan memberikan suatu ujian sesuai dengan kemampuan hamba-Nya. Kalau Alloh saja yakin kita mampu, masa kita sendiri tidak yakin dengan kemampuan diri? Buat yang saat ini sedang diuji oleh Alloh (termasuk saya, hehe), apapun bentuk ujian itu, bergembiralah dan bersabarlah. Bergembira karena ujian berarti Alloh masih peduli dan sayang sama kita, untuk itu ia memberikan ujian agar kita lebih kuat, lebih bijak, dan lebih mulia. Alloh ingin kita menjadi lebih baik di hadapan-Nya. Setelah itu, bersabarlah karena sesungguhnya kesabaran akan membuahkan ketenangan jiwa, kekuatan hati, dan sungguh Alloh selalu bersama orang-orang yang sabar. Bersabarlah, karena Allah tidak akan meninggalkan hamba-Nya yang beriman, justru manusia lah yang seringkali meninggalkan sang penciptanya. Apakah yang diperoleh orang-orang yang telah kehilangan Alloh dari dalam dirinya? Dan apakah yang harus dicari oleh orang-orang yang telah menemukan Alloh di dalam dirinya? Sungguh antara yang pertama dan kedua tidak akan pernah sama. Orang kedua akan mendapatkan segalanya, dan orang pertama akan kehilangan segalanya. Wallahualam

menggapai ridho lewat menikah

Filed under: Uncategorized — frenchflower at 9:49 pm on Friday, February 1, 2008

“Kapan menikah?” mungkin itu common question yang diajukan lingkungan sekitar kepada kita yang sudah dirasa ‘cukup’ dalam segala hal untuk yang satu itu. InsyaAlloh   dimudahkan dan disegerakan Alloh..itu pasti jawaban saya jika ada yang menanyakan hal tersebut kepada saya, dan memang benar-benar dimudahkan sepertinya..saya merasakannya. Walaupun pada akhirnya itu terserah pada Alloh melalui keputusan saya juga. Yah, destiny meet choice..hehe. Di sebuah buku yang baru saya baca ada suatu hadist yang berbunyi,”Menikahlah, karena engkau akan menjadi kaya”, sabda Rasullullah ini mengingatkan saya betapa “besarnya” manfaat menikah. Kata kaya disini memiliki banyak makna, tidak hanya semata2 mengacu kepada harta. Lebih dari itu, dijelaskan juga bahwa menikah artinya menetramkan batin, menambah keluasan jiwa dan membuat seseorang menjadi lebih arif dalam menjalani hidup. makna terdalam dalam proses menikah  adalah menyempurnakan sebagian dari agama, mengikuti sunah Rasul. Terdapat banyak hikmah yang terkandung dalam pernikahan. Dengan pernikahan maka manusia telah mengamalkan perintah Allah dan menjauhi laranganNya. Setiap pasangan pstimengahrapkan pernikahannya jadi berkah dan selalui diridhai Allah, orangtua dan keluarganya. Doa yang selalu diucapkan untuk pasangan baru adalah sakinah, mawaddah dan rahmah. Tapi tahukah kita bahwa untuk mewujudkannnya tidak semudah mengucapkannya. Saya yakin, ada banyak pekerjaan disana, pengorbanan, kekuatan dan keteguhan hati agar perjalanan rumah tangga berjalan sesuai harapan.

“Dunia adalah harta kekayaan yang sangat mahal harganya dan sebaik-baik harta kekayaan didunia adalah wanita yang sholihah” (HR. Muslim). Perempuan sholihah diibaratkan tiang. Dan tiang rumah tangga akan tegak oleh ketakwaan. Sebab ketakwaan kan akan melunakkan hati, menjernihkan jiwa serta pintu untuk menjalankan hak dan kewajiban berumah tangga.

Tapi bukan laki-laki saja yang dapat memilih calon istri. Perempuan juga berhak memilih pasangan hidupnya. Bahkan perempuan harus ekstra “hati-hati” memilih calon suami. Karena dengan menikah, perempuan akan menyerahkan jiwa raganya, kehidupannnya, susah dan senangnya kepada seorang laki-laki yang bukan bagian dari keluarganya. Laki-laki asing yang tidak memiliki ikatan darah. Seorang laki-laki yang tidak pernah serumah dengannya. Seperti yang diibaratkan Rasulullah “pernikahan adalah suatu penghambaan,  hendaklah setiap orang diantara kamu memperhatikan dimana ia meletakkkan putrinya” (HR baihaqi).

            Bagaimanapun posisi laki-lakiyang memegang talak. Jika tidak cocok, maka ia akan lebih mudah menceraikan istrinya. Berbeda dengan perempuan, meski dapat menggugat cerai, tapi prosesnya relative sulit. Maka memilih calon suami secara seksama adalah keharusan bagi perempuan agar di kemudian hari tidak terjadi penyesalan yang akhirnya berbuah perceraian.Rasulullah sangat menganjurkan kepada umatnya untuk menikahi orang yang benar-benar kuat agamanya dan mulia akhlaknya. Dalam sebuah riwayat disebutkan, seorang laki-laki datang kepada Hasan Bin Ali, cucu Rasulullah.”Ya Hasan,putriku akan dipinang, kepada siapa aku akan menikahkannya?” Hasan menjawab, “nikahkanlah putrimu dengan orang yang bertakwa. Sebab bila ia mencintai putrimu,pasti ia akan menghormati dan memulikannya. Dan bila  tidak mencintai putrimu, pasti tidak akan menzhaliminya”. Laki-laki baik adalah untuk perempuan baik dan perempuan baik adalah untuk laki-laki baik. Janji Allah inilah yang selalu menjadi pedoman keyakinan saat menapaki kehidupan berumah tangga.. Dengan begitu  InsyaAlloh saya tidak akan  pernah menyesal dan berpikir untuk mengakhiri ikatan suci yang terucap dihadapan Allah.

: Janganlah seorang mukmin membenci istrinya yang mukminah. Kalaupun ia membenci salah satu akhlaknya, tentu ia menyenangi akhlak lannya. (HR Muslim kitab Ar Radha). Bagaimanapun juga tidak ada manusia yang sempurna. Setiap individu memiliki kekurangan yang mungkin sulit untuk diubah. Saya pun demikian. Masih banyak kekurangan saya yang harus saya perbaiki dan saya harapkan “someone out there” mau menerimanya, dan InsyaAlloh mendidik dan mengingatkan saya, begitupun saya sebaliknya padanya, mau menerima ia apa adanya.

Namun yang selalu harus diingat dan saya pegang adalah, apa yang nampak tidak baik dimata kita belum tentu tidak baik dimata Allah. Satu doa saya selalu saya panjatkan Ya Allah, berilah saya pasangan yang mendidik dunia dan akhirat, pasangan yang kelak mau selalu berjalan di jalanMu selalu agar rumah tangga saya kelak adalah rumah tangga yang penuh syukur, keikhlasan,keterbukaan dan ketakwaan dan menuju sakinah, mawaddah dan Warahmah Mu Yaa Rabb.. InsyaAlloh.,